Mengenal Esport dan Sejarah Perkembangannya di Indonesia

Circlemed.co – Tahukan kalian tentang Esport? Yap, sebagai penggemar video game mungkin kata Esport sudah tidak asing lagi di telinga, tetapi berbeda bagi beberapa orang awam. Esport bakal masih menjadi teka-teki yang belum terselesaikan. Melalui survei yang dilakukan oleh Esportnesia kepada beberapa orang yang mengaku dirinya gamer, bahkan juga kurang paham tentang apa itu Esport. Namun, beberapa di antaranya dapat mendefinisikan kata Esport seperti kata email dan olahraga yang dilakukan melalui media elektronik seperti komputer, smartphone, dll.

Lantas apa itu Esport dan bagaimana sejarahnya hingga sampai di Indonesia?

Menurut pengamat Gaming dan Esport Dedy Irvan mengatakan bahwa, “Esports itu sebenarnya game yang dipakai buat profesi, kerjanya itu game, istirahatnya itu tidak main game”. Sedangkan mengacu pada whitepaper yang dikeluarkan oleh esports.com, esports merupakan kompetisi video game di ranah profesional.

1972

Orang-orang yang baru mengenal Esport mungkin merasa seperti olaharaga ini muncul secara tiba-tiba, tapi tahukah kamu? Jika sebenarnya Esport sudah lama ada, bahkan turnamen Esport pertama kali digelar pada 19 Oktober 1972 di Standford University dengan 24 pemain dimana mereka berkompetisi di game bernama “Spacewar!”, sebuah game bertema luar angkasa yang dikembabangkan pada tahun 1962.

Menariknya, hadiah yang ditawarkan untuk pemenang bukanlah uang tapi langganan setahun majalah Rolling Stone dan pemenang yang beruntung saat itu adalah Bruce Baumgart.

Turnamen esport pertama dengan game berjudul spacewar di tahun 1972 (Foto: Bequipe.com)

1980

Tahun 1980 menjadi awal kepopuleran kompetisi video game ketika Atari mengadakan Space Invaders Championship. Turnamen ini sukses mencetak sejarah dengan dikenal sebagai salah satu turnamen pertama dengan jumlah partisipan lebih dari 10.000 orang dan berhasil mendapatkan perhatian luas dari media. Kala itu, pemenang dalam kompetisi ini adalah Rebecca Heinemen yang sekarang dikenal sebagai salah satu perancang game digital.

Space Invaders Championship yang digelar oleh Atari di tahun 1980 (Foto: linkedin)

Di tahun yang sama, Walter Day juga mencetak peristiwa penting dalam sejarah video game dengan membuat Twin Galaxies, dimana perusahaan ini mempromosikan video game yang bisa menyimpan dan mencatat high score, prestasi ini juga diakui oleh the Guinness Book of World Records.

1990

Mulai munculnya internet dan world wide web di tahun 1990 telah membantu dalam perkembangan video gaming ke ranah yang lebih modern. Kecanggihan internet dalam mengirim pesan kilat, membantu menghubungkan pemain melalui web sehingga di masa ini game kompetitif bisa digunakan. Konetivitas internet juga berdampak pada meningkatnya popularitas game di PC, bahkan perusahaan seperti Nintendo dan Blockbluster mulai mensponsori turnamen dunia video game di sekitar waktu ini.

1995

Di tahun 1995, IndoNet hadir sebagai Internet Service Provider (ISP) komersial pertama di Indonesia. Kehadiran internet kala itu membuat para pemain game digital di Indonesia bisa mencicipi serunya bermain game online dan di tahun ini pula muncul warung internet (warnet) pertama di Indonesia.

Kehadiran warnet menjadi suatu fenomena besar di Indonesia. Game vc  menjadi salah satu bentuk hiburan yang menarik bagi anak muda di Indonesia. Lalu, di tahun 1998 mulai muncul game populer yang nantinya tidak asing untuk Esport di Indonesia, yaitu Starcraft, Counter-strike menyusul di tahun berikutnya dan di 2004 juga dikembangkan Warcraft.

Bersama hadirnya warnet, turnamen game online menjadi salah satu acara yang sangat populer kala itu. Defense of the Ancient (DotA) menjadi game yang cukup sering melalukan turnamen online, turnamen DotA biasanya diadakan oleh penyedia server yang berbeda-beda, seperti Indogamers (IDGS), Nusareborn, atau pun Neo MGI.

Tetapi, turnamen online yang cukup populer ini sebenarnya cukup sulit untuk dilacak karena minimnya informasi yang beredar. Selain itu, kebanyakan informasi tentang turnamen hanya dibagikan di dalam forum server  dan ruang obrolan dalam game. Bentuk turnamen online ini sebenarnya sudah cukup lama hadir di Indonesia.

2000

Berkat perkembangan teknologi dan Internet di Korea Selatan, World Cyber Games (WCG) pertama diadakan di Seoul pada tahun 2000. Turnamen yang juga dikenal sebagai “Esport Olympics” diikuti oleh 17 negara dan 174 partisipan, beberapa game yang dipertandingkan adalah Age of Empires II, FIFA 2000, Quake III Arena, StarCraft: BroodWar, dan Unreal Tournament. Turnamen WCG kala itu benar-benar membawa perubahan yang cukup besar dalam dunia Esport.

2002

Di Indonesia WCG hadir pada tahun 2002 sebagai ajang penyisihan untuk mencari perwakilan negara dan kala itu WCG menjadi suatu acara Esport terbesar di Indonesia. Berkat kehadiran WCG, Indonesia memiliki kesempatan untuk berlaga di kancah Esport Intenasional dan tim asal Indonesia yang menarik perhatian dunia adalah XCN.

Di tahun yang sama muncul juga Major League Gaming (MLG) dan masih menjadi liga E-Sports terbesar di dunia hingga saat ini. Setelah hadirnya turnamen WCG di tahun 2002, Indonesia menjadi salah satu pasar turnamen Esports. Hal ini terbukti dengan hadirnya beragam turnamen yang mulai bermunculan seperti GESC: Indonesia Dota 2 Minor, World GameMaster Tournament (WGT), Electronic Sport World Cup (ESWC), dll.

2013

Di tahun 2013 salah satu game online yang paling populer untuk dipertandingkan adalah Dota 2, sebuah game MOBA (Multiplayer Online Battle Arena) yang berhasil menarik banyak pemain. Bahkan, Game Dota 2 pun kini menjadi E-Sports dengan total hadiah terbesar sepanjang sejarah yaitu mencapai 22 juta dollar untuk ajang The International 7.

Lalu, di tahun 2016 tren Dota mengalami pergeseran setelah hadirnya Mobile Legends di Google Play Store Indonesia. Game yang dikembangkan oleh Moonton ini menjadi salah satu fenomena besar. Bahkan sampai artikel ini dibuat Mobile Legends masih berada di peringkat pertama Top Free Game di App Store Indonesia.

2018

Di tahun ini, di Indonesia mulai muncul organisasi penyedia liga Esports terbesar yaitu Indonesia Esports Premiere League (IESPL). IESPL berhasil mengadakan liga pertama mereka yaitu Tokopedia Battle of Friday (TBOF) pada 10 Agustus 2018 dan menyajikan laga dari 12 tim Esports profesional Indonesia. Turnamen ini memiliki empat cabang permainan, yaitu Dota 2, Mobile Legends, Counter-Strike: Global Offensive (CS:GO), dan Point Blank.

Berkat kepopulerannya, Esports semakin dilirik oleh banyak pihak ketika hadir menjadi permainan ekshibisi di Asian Games 2018. Kala itu, Asian Games menyajikan enam judul game, yaitu Arena of Valor, Clash Royale, Hearthstone, StarCraft 2, Pro Evolution Soccer 2018, dan League of Legends.

Selang setahun kemudian, IESPL kembali mengadakan turnamen Esports di Indonesia, yaitu Piala Presiden Esports. Piala Presiden Esports 2019 menjadi turnamen nasional yang diselenggarakan dengan menggunakan format kualifikasi regional yang sangat bermanfaat untuk menjaring para pemain daerah di Indonesia.

Esport di Asian Games 2018 (Foto: Mineski.net)

2020

Meskipun di tahun 2020 terdapat pandemi Covid-19 yang membatasi gerak masyarakat, namun Esport mampu membuktikan keunggulannya. Tentu saja hal ini karena Esport bisa dimainkan secara online tanpa bertatap muka dengan lawan mainnya. Bahkan, World Health Organization (WHO) menyarankan orang-orang untuk bermain game di rumah untuk menjaga kondisi mental mereka agar tidak stres selama masa pandemi.

Dengan tujuan itu maka Perkumpulan Olahraga Elektronik Indonesia atau IESPA, didukung oleh Smartfren, Gillete, Indomaret, Razer dan Ligagame, akan menyelenggarakan kejuaraan resmi Esport antar provinsi di bulan Mei hingga Oktober 2020 yang bertajuk Smartfren IES Indonesia Championship. Beberapa judul game Esport yang akan dipertandingkan pada kejuaraan ini yaitu PUBG Mobile, Dota 2, Mobile Legends, Autochess. Dengan adanya kejuaraan Esport di bulan Mei ini diharapkan kaum muda tetap bisa mengejar passion di dunia gaming sekaligus mendukung program physical distancing. Dari awal kemunculannya, Esport akan terus berkembang bersamaan dengan majunya teknologi, bukan hal yang tidak mungkin jika di masa depan akan muncul evolusi terbaru dari esport. Bahkan teknologi seperti Virtual Reality dan Augmented Reality bisa saja menjadi evolusi esport berikutnya. (IAA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *